Laman

18 April 2013

Kisah Seseorang Yang Mengolok-Ngolok Malaikat Maut

Kisah ini diceritakan oleh seorang ustadzah

Hari itu aku pergi ke sebuah klinik. Setelah mengambil nomor antrian, aku pun duduk menunggu giliranku. Sekonyong-konyong masuklah seorang gadis cantik. Sayang sekali, dia tidak mengenakan jilbab. Sebaliknya, berdandan menor. Gadis itu pun mengambil nomor, lalu duduk tidak jauh dariku.

Entah mengapa, ada sebuah dorongan dalam diriku untuk menyampaikan sekedar sebuah nasehat kepadanya. Akhirnya setelah cukup lama diliputi kebimbangan, aku pun menasehatinya dengan selembut mungkin. Aku jelaskan kepadanya perintah Allah yang telah dilanggarnya. Namun reaksinya benar-benar tak kuduga. la membentakku dengan suara keras.

Ia marah karena -menurutnya- aku terlalu ikut campur dengan apa yang ia kenakan.
“Aku bebas melakukan dan mengenakan apa yang aku mau!!” ujarnya.

Akhirnya, aku pun kembali ke tempat dudukku. Namun dorongan dan bisikan itu kembali mengusik hatiku: “Mengapa aku tidak menyampaikan soal kematian -sang penghancur segala kenikmatan- kepadanya ?”

Aku pun memberanikan diri kembali mendekatinya. Dengan sesungging senyum aku memintanya untuk menjawab satu pertanyaan saja dariku.

“Silahkan,” ujarnya.

“Jika saja saat ini Sang Malaikat pencabut nyawa mendatangimu, apa yang akan engkau katakan padanya?” tanyaku.

Ia pun menjawab -duhai, andai saja ia tidak menjawabnya- dengan penuh cemooh: “Aku akan mengatakan kepadanya: ‘Hush..hush!”

Jawaban itu seperti petir menyambarku. Namun beruntunglah nomor antrianku muncul di layar. Dan aku pun masuk menemui sang dokter dengan hati yang dipenuhi keterkejutan. Bagaimana mungkin seorang manusia bisa sedemikian sombong dengan mengucapkan kata-kata seperti itu?

Setelah menjalani semua pemeriksaan, aku pun keluar dari ruang dokter. Di luar sang, aku dikejutkan dengan kerumunan pasien dan perawat yang silih berganti mengucapkan: ‘Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un‘. Saat aku mendekat, betapa terkejutnya aku. Apa yang kulihat? Yang kulihat adalah gadis itu. Ia terkulai dan tergeletak di situ dalam keadaan tidak bernyawa lagi. Rupanya hari itu adalah hari terakhirnya. Dan semua bisikan-bisikan yang memenuhi hatiku tadi tidak lain adalah untuk memberinya kesempatan. Yah, Allah masih memberinya kesempatan untuk -setidaknya- meniatkan taubatnya. Tapi sayang sekali, ia tidak menggunakan kesempatan terakhir itu. Malaikat maut datang, dan ia tidak mampu mengucapkan sepatah kata pun padanya.

Kisah ini adalah hadiah untuk mereka yang tertipu dengan angan-angan dan obsesi hidup lebih lama di dunia!!

silahkan ambil hikmahnya wahai saudara...

Sumber : kisahislam,net
Baca selengkapnya..

Sebuah Renungan

Baca selengkapnya..

25 Februari 2013

Dongeng Motivasi Emas dan Ular

Dongeng Motivasi Emas dan Ular



Dahulu kala ada seorang petani miskin yang mesti berjuang keras untuk memajukan kehidupannya. Namun meskipun ia terus bekerja dan berhati-hati dalam melakukan pengeluaran, ia tetap saja tak mampu menyisihkan penghasilannya untuk ditabung, selalu saja pas-pasan.
Suatu malam, dalam tidurnya ia bermimpi ada suara yang berkata: "Jika ada sesuatu di dunia ini yang begitu sulit untuk kamu dapatkan, maka suatu waktu hal itu akan muncul begitu saja di hadapanmu." Dan petani inipun terbangun dari tidurnya. Dia kemudian berharap bahwa ketika ia bangun di suatu pagi, ia akan menemukan harta yang berlimpah di rumahnya sendiri. Dengan begini, tidak diragukan lagi bahwa kekayaan itu memang dimaksudkan untuknya.
Beberapa hari berlalu, ketika ia sedang dalam perjalanan, bajunya tersangkut pada semak-semak berduri yang tumbuh di sekitar ladang, Tak ingin kejadian yang sama terulang, dia pun bermaksud membabat habis semak belukar itu. Namun ketika ia mencabut akar dari semak itu, di bawahnya ia menemukan sebuah kendi. Dibukanya tutup kendi itu, dan alangkah kagetnya si petani ketika mengetahui bahwa di dalam berisi begitu banyak kepingan emas. Pada mulanya hati petani miskin ini berteriak girang, namun setelah beberapa menit berpikir, ia kemudian berkata: "Oh aku memang ingin sekali menjadi kaya. Tapi aku telah meminta agar harta itu muncul di gubuk kecilku, akan tetapi aku justru menemukannya di ladang ini. Oleh karenanya aku takkan mengambil kendi ini berisi emas. Kendi ini tidak ditakdirkan untukku."

Lalu petani itu pun meninggalkan kendi di tempat ia menemukannya dan kembali berjalan pulang. Sesampainya di rumah ia pun menceritakan penemuannya kepada istrinya. Istrinya pun marah besar atas kebodohan sang suami meninggalkan harta itu di ladang. Dan ketika si petani tidur, istrinya pun pergi ke rumah tetangga dan mengatakan segalanya. "suami saya yang begitu bodohnya justru meninggalkan harta itu di ladang dan bukan membawanya pulang. Pergi dan ambillah harta itu untukmu dan bagilah denganku."

Tetangga itu pun sangat senang dengan saran ini, dan tak menunggu lama ia pun menuju ke tempat yang dimaksud oleh istri petani. Disibaknya semak-semak belukar, dan ia memang menemukan kendi itu masih berada disana. Diangkatnya dan ditengoknya ke dalam kendi itu. Namun alangkah panik dan marahnya ia ketika melihat bahwa kendi itu ternyata tidak berisikan kepingan emas seperti yang diceritakan oleh istri petani melainkan penuh dengan ular berbisa.

"Perempuan licik. Dia pasti hendak menjebakku. Dia berharap aku memasukkan tanganku ke dalam hingga aku digigit dan mati keracunan oleh bisa ular." pikirnya marah.

Jadi iapun kembali menutup kendi itu dan membawanya pulang. Dan pada saat tengah malam tiba, dengan diam-diam dia mendatangi rumah petani miskin tetangganya. Dia melihat sebuah jendela yang terbuka. Dengan sigap dipanjatinya. Dikeluarkannya ular-ular berbisa itu dari dalam kendi, dan iapun kembali pulang.

Ketika fajar tiba, petani miskin yang pertama kali menemukan kendi tersebut, bangun untuk memulai hari. Ketika ia berjalan ke dapur untuk mengambil segelas air, dilihatnya setumpuk koin emas berhamburan di bawah jendela rumahnya. Dalam hati ia mengucap rasa syukur sembari berkata: "Akhirnya aku bisa menerima kekayaan ini, mengetahui bahwa mereka pasti ditujukan untukku, karena mereka muncul di rumahku sendiri, seperti yang aku harapkan!"

***

Pelajaran apa yang dapat kita petik dari cerita dongeng diatas?
Tentu saja bukan tentang mimpi si petani dimana harta itu tiba-tiba akan datang dengan sendirinya.
Tidak bukan itu.

Tapi pelajaran tentang bagaimana kita ini manusia haruslah pandai-pandai dalam melihat dan mencermati sebuah kesempatan yang ada. Namun telaahlah saat kita mengambil kesempatan itu sendiri, jangan sampai apa yang kita ambil itu merupakan hak milik orang lain. Seperti misalnya si petani miskin yang menolak mengambil kendi berisi emas saat ia menemukannya di ladang. Dia dapat melihat itu memang merupakan sebuah kesempatan, tapi dia merasa kesempatan itu memang belum diperuntukkan untuknya. Dia menemukan emas itu di ladangnya, bisa saja emas itu milik orang lain.

Memang ada sebuah pepatah 'siapa cepat dia yang dapat', tapi apakah anda bisa hidup bahagia dengan bersenang-senang di atas derita orang lain?

Namun pada saat kesempatan itu telah datang, dan anda yakin kesempatan itu memang diperuntukkan untuk anda, maka jangan tunggu lagi. Segera raihlah kesempatan itu.

Oleh karenanya, selalu bukalah mata anda. Tengoklah sekeliling anda, kesempatan itu mungkin kini ada di depan anda hanya saja anda kurang melihatnya. :)
sumber : http://1001motivations.blogspot.com/2010/12/dongeng-motivasi-emas-dan-ular.html
Baca selengkapnya..

18 November 2012

[Artikel] Makna Pahlawan dalam Islam

Makna Pahlawan dalam Islam
 
Kata pahlawan menurut kamus besar bahasa Indonesia berasal dari dua kata, bahasa sangsekerta, pahla dan wan. Pahla berarti buah, sedangkan wan bermakna sebutan bagi orangnya (bersangkutan). Dulu gelar pahlawan diberikan kepada siapa saja yang mati di medan pertempuran baik mati karena membela bangsa dan negaranya maupun agamanya. Namun di era modern ini gelar pahlawan menjadi lebih luas dan tidak ada batasan yang jelas. Misalnya para Tenaga Kerja Wanita (TKW) disebut sebagai para pahlawan devisa. Guru yang mengajar disekolah diberi gelar pahlawan tanpa tanda jasa. Bahkan seorang pria ataupun wanita yang bekerja membanting tulang demi menghidupi keluarganya disebut sebagai pahlawan keluarga. Karena tidak adanya batasan dari makna pahlawan ini, sempat terjadi perdebatan dikalangan tokoh negeri ini tentang layak kah soeharto, presiden kedua republik ini diberi gelar pahlawan nasional?
Namun secara umum dapatlah disimpulkan bahwa pahlawan adalah seseorang yang telah berjuang mengorbankan waktu, jiwa dan raganya demi kebaikan orang banyak.
Jika dinisbatkan kepada Islam “Pahlawan Islam” berarti seorang muslim yang berjuang mengorbankan waktu, jiwa dan raganya demi kebaikan (kemuliaan) Islam dan umatnya. Dalam terminology Islam, seorang muslim atau muslimah yang mati karena membela kehormatan diri, harta, nyawa dan agamanya disebut syahid. Bahkan orang yang mati disebabkan tenggelam atau terkena penyakit dapat pula disebut syahid termasuk seorang ibu yang wafat dalam proses melahirkan.
Dalam Shahih Bukhari disebutkan:
“Menceritakan kepada kami Abdullah bin Yusuf, menceritakan kepada kami Malik dari Sumyyin dari Abu Shalih dari Abu Hurairah r.a : bahwa Rasulullah s.a.w bersabda: Syuhada itu ada lima, yaitu Orang yang mati terkena cacar, orang yang mati karena diare, orang yang mati tenggelam, orang yang mati tertimpa runtuhan (longsor), dan orang yang syahid di jalan Allah” (Al-Bukhari, Kitab As-Sayru Wal-Maghazi: 2617)
Sedangkan dalam Shahih Muslim disebutkan pula:
“Dari Abu Hurairah r.a, katanya, Rasulullah s.a.w bersabda: Apa yang kalian ketahui tentang syahid?” Sahabat r.a menjawab: Barangsiapa yang terbunuh di jalan Allah maka dia syahid” Lalu Rasulullah s.a.w bersabda: “Kalau begitu syahid di kalangan ummat ku sedikit”, Sahabat r.a berkata lagi, kalau begitu siapakah mereka ya Rasulullah ? Rasulullah s.a.w bersabda: Barangsiapa yang terbunuh di jalan Allah maka dia syahid, barang siapa yang mati di jalan Allah, maka dia syahid, barangsiapa yang mati karena cacar maka dia syahid, siapa yang mati terkena diare dia syahid ” (Shahih Muslim, Kitaabul Imaarah:3539)
Terkait dua hadist diatas, Imam Nawawi dalam syarah Muslim menjelaskan, Para ulama berkata: “Yang dimaksudkan syahid diatas adalah selain syahid Fie sabilillah (terbunuh ketika berperang di jalan Allah), mereka itu di akhirat memperoleh pahala para syuhada. Adapun di dunia, mereka dimandikan dan dishalatkan. Dalam kitab Al-Iman telah dijelaskan masalah ini. Adapun syuhada, terbagi kedalam Tiga jenis: Syahid dunia dan akhirat, yaitu yang terbunuh ketika berperang melawan kafir, dan syahid akhirat, hukum dunia terhadapnya tidak diperlakukan sebagaimana layaknya orang yang terbunuh di jalan Alah, mereka inilah yang dimaksudkan syahid (secara umum) dalam hadits ini, dan syahid dunia, yaitu orang yang berperang karena mencari ghanimah dan berpaling dari peperangan”
Pembagian Syahid
1. Syahid Dunia
Yaitu orang yang terbunuh ketika dia berperang, tetapi dia tidak ikhlas karena Allah, bukan demi menegakkan kalimat Allah (Islam). Soal niat, selain dirinya, manusia yang lain tidak ada yang tahu. Akan tetapi ketika jasadnya ditemukan terbunuh ketika berperang melawan kafir, maka ia dihukumi sebagai syahid.
2. Syahid Akhirat saja
Yaitu orang-orang yang mati karena tenggelam atau terbakar dan semisalnya, sebagaimana terdapat dalam hadits-hadits Nabi. Orang yang termasuk kategori ini dimandikan, dikafani juga disholatkan
3. Syahid dunia dan akhirat
Yang dimaksud syahid dunia akhirat adalah orang yang terbunuh ketika berperang di jalan Allah dengan niat yang ikhlas, tidak riya dan tidak berbuat ghulul (mencuri harta rampasan perang). Jenis inilah yang merupakan syahid yang sempurna dan syahid yang paling utama, baginya pahala dari sisi Allah Yang Maha Agung. Soal niat ikhlas atau tidaknya, hanya dia yang bersangkutan dan Allah yang tahu. Manusia hanya menghukumi secara zhahir bahwa dia mati terbunuh di jalan Allah. Sehingga dia layak disebut sebagai syahid. Karenanya jenazahnya tidak perlu dimandikan,tidak perlu dikafankan, tidak perlu disholatkan, ia hanya dikuburkan dengan pakaian lengkap tatkala ia terbunuh syahid.
Untuk syahid jenis pertama dan ketiga, terdapat beberapa pendapat. Menurut pendapat Al-Ahnaf (Hanafiyah), mereka tidak dimandikan, tidak dikafani tetapi disholatkan. Menurut Hanabilah (pengikut mazhab Hanbali) mereka tidak dimandikan, tidak dikafani dan tidak disholatkan. Menurut Malikiyah, Mereka tidak dimandikan, tidak dikafankan, tidak juga di sholatkan. Dan, menurut Syafi’iyah, mereka tidak dimandikan, tidak dikafani dan tidak pula disholatkan”
Berdasarkan hadist diatas pula secara khusus gelar pahlawan disematkan kepada para syuhada, atau orang-orang beriman yang wafat dalam pertempuran di medan jihad fii sabilillah untuk menegakkan dan memuliakan kalimah Allah SWT di muka bumi ini. Misalnya para syuhada yang wafat pada perang uhud dapatlah dikatakan sebagai para pahlawan Islam.
Bagi seorang muslim keridhaan Allah dan surgaNya lebih utama dari sekedar gelar pahlawan. Dan keridhaan Allah hanya akan diraih dengan selalu membersihkan niat dari unsur-unsur riya dan senantiasa menyelaraskan perbuatan dengan hukum-hukumNya.
Dalam sebuah hadist, Abu hurairah meriwayatkan, ‘Aku mendengar Rasulullah bersabda, “Sungguh manusia yang pertama kali akan dihisab pada hari kiamat ialah seorang lelaki yang gugur mati syahid. Ia pun didatangkan, lalu ditunjukkan kepadanya nikmat-nikmatnya dan ia pun mengetahuinya. Kemudian ditanyakan kepadanya,’apakah yanng telah engkau perbuat untuk mendapatkannya?’ Ia menjawab,aku telah berperang karena-Mu hingga aku mati syahid. Allah berfirman,”Kamu bohong. Kamu berperang hanya agar dikatakan bahwa kamu ialah seorang pemberani, dan telah dikatakan seperti itu. Lantas ia pun dibawa dan diseret atas wajahnya lalu dilemparkan kedalam neraka.
Setelah itu seseorang yang belajar ilmu dan mengajarkannya serta pandai membaca Al-Qur’an. Ia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya nikmat-nikmat yang telah dijanjikan untuknya dan iapun mengetahuinya. Kemudian, dikatakan kepadanya,’apa yang telah kau lakukan untuk mendapatkannya?’ Iapun menjawab, aku belajar dan mengajarkan ilmu serta membaca alqur’an untuk-Mu’. Allah berfirman, kamu bohong. Kamu belajar ilmu hanya agar disebut orang alim, kamu membaca alqur’an hanya agar disebut Qori’, dan semuanya telah dikatakan. Lantas, ia dibawa pergi dan diseret diatas mukanya sampai ia dilemparkan kedalam neraka.
Kemudian seseorang yang telah Allah luaskan rezekinya, Allah berikan kepadanya berbagai macam harta benda dan kekayaan. Iapun didatangkan dan diperlihatkan nikmat-nikmatnya dan iapun mengetahuinya. Kemudian ditanyakan,’apakah yang telah kau lakukan dengannya?’ Ia menjawab,’aku tidak meninggalkan satu jalan kebaikan pun yang engkau sukai untuk berinfak didalamnya, kecuali aku infakkan hartaku padanya karena-Mu. Allah berfirman,’Kamu bohong’. Kamu melakukan hal itu hanya agar disebut sebagai orang yang dermawan, dan telah dikatakan seperti itu. Lantas, ia pun dibawa dan diseret dengan mukanya sampai dilemparkan kedalam neraka. HR.Muslim.
Perjuangan seorang muslim semata-mata karena dorongan akidah Islam dan mencari keridhaan Allah SWT semata. Dia tidak berjuang membela ashobiyah, fanatisme kelompok, golongan, kesukuan, kebangsaan dan nasionalisme. Karena itu semua hanya menjadikan amal pengorbanannya sia-sia disisi Allah SWT.
Rasulullah SAW bersabda:
Siapa saja yang berperang di bawah panji kebodohan marah karena suku, atau menyeru kepada suku atau membela suku lalu terbunuh maka ia terbunuh secara jahiliyah (HR Muslim)
Bukan dari golongan kami siapa saja yang mengajak kepada ashabiyah, bukan pula dari golongan kami orang yang berperang karena ashabiyah, dan tidak juga termasuk golongan kami orang yang mati karena ashabiyah (HR Abu Dawud)
Wallahu ‘alam bi ash shawab.

  credit : http://hizbut-tahrir.or.id/2012/02/29/makna-pahlawan-dalam-islam/#comment-87104
Baca selengkapnya..

12 November 2012

[Resensi] Novel Bidadari-Bidadari Surga

 BIDADARI-BIDADARI SURGA


"PULANGLAH. Sakit kakak kalian semakin parah. Dokter bilang mungkin minggu depan, mungkin besok pagi, boleh jadi pula nanti malam. Benar-benar tidak ada waktu lagi. Anak anakku, sebelum semuanya terlambat, pulanglah...."
           

Dua ratus tiga karakter sms tersebut menjadi titik pangkal cerita dari kisah ini. Pesan yang dikirim ke empat penjuru dunia atau mungkin 2 benua, yang menjadi bom atom yang meledakan dan membangkitkan kenangan masa lalu, mengemosionalkan kondisi masa kini, dan berharap-harap cemas takdir di masa depan.
            Tere Liye ternyata merupakan salah satu tokoh novelis pria yang sedang naik daun dengan novel-novel agamis-family-nya. Sudah  banyak karya yang ditelurkan oleh beliau. Dari tulisan-tulisan beliau yang mendetail, menyentuh, dan mengaduk-aduk emosi pembaca, saya menyangka beliau adalah seorang novelis perempuan, karena jarang sekali novelis laki-laki menggunakan daya pikat kata-kata dan kisah manis yang mengharu-birukan pembaca.
            Bidadari-bidadari surga menyuguhkan cerita kekuatan cinta, pengorbanan, dan kerja keras yang dibangun disebuah keluarga. Menceritakan kisah 5 bersaudara, dimana cerita dimulai dengan 203 karakter sms yang mengabarkan kondisi kritis si sulung yang dikirimkan oleh mamak kepada keempat adiknya yang lain yang berada ditempat yang berbeda-beda. Di tempat meraka telah meraih kesuksesan, tempat dimana passion mereka berada. Keempat bersaudara itu adalah Dalimunte seorang ahli fisika yang sedang menjadi pembicara dalam acara symposium internasional ketika menerima sms tersebut, sedangkan Ikanuri dan Wibisana berada dalam perjalanan bisnisnya di Eropa dan terakhir Yashinta si bungsu pecinta alam yang sedang  melakukan penelitian untuk pelestarian burung alap-alap kawah di puncak Gunung Semeru.
            Mengisahkan perjuangan perjalanan keempat bersaudara kembali ke kampung halaman. Berjuang untuk sesegera mungkin menemui kakak sulung terkasih mereka, yang sedang sekarat melawan penyakit kanker paru-paru yang sudah kronis.  Perjalanan mereka ke Lembah Lahambay diwarnai dengan terbangkitkannya  kenangan-kenangan dengan kakak sulung mereka, Kak Laisa. Sosok kakak tegar, rela mengorbankan apapun demi adik-adiknya yang ia cintai. walau dia tahu, di dalam tubuh mereka tidak mengalir darah yang sama, walau dia tahu dia telah mengorbankan masa depannya sendiri. Terputar kembali seolah me-rewind video, tahap-tahap perjalanan mereka dari mereka kecil, dari mereka tidak mengerti apapun hingga mereka telah sukses sekarang ini. Perjalanan tersebut tidak luput bahwa selalu ada Kak Laisa kakak mereka dengan segala keterbatasannya, selalu ada dan mendukung mereka dengan kasihnya walau hanya berperan sebagai tokoh di balik layar.
            Karakter khas yang kuat dapat ditemukan disetiap tokoh. Kekuatan karakter setiap tokoh
diinterprestasikan melalui uraian kata yang menjelaskan sudut pandang tiap  tokoh, respon  terhadap suatu masalah, hingga pola pikir yang berbeda-beda di setiap kepala. Pendeskripsian suatu masalah, tempat, atau objek apapun seringkali disampaikan dengan hiperbolis dan personifikasi hingga mengundang rasa  kagum dan imajinasi yang melimpah ruah bagi pembacanya. Tere Liye seringkali menjelaskan setiap kejadian sedetail mungkin secara unik dan khasnya Tere Liye sehingga jauh dari  menimbulkan rasa bosan akan narasi yang panjang. Tere Liye secara apik mengajak pembaca berpetualang dalam tulisannya dengan alur maju mundur yang cepat. Mengajak pembaca untuk mengenang dan meresapi masa lalu serta menikmati untuk menjalani masa sekarang setiap tokoh.
            Melalui Dalimunte si kecil cabe rawit. Dengan kejeniusan dan  kegigihannya secara tak diduga melalui karya kincir anginnya mampu menggerakkan roda kehidupan dikampungnya menjadi lebih baik lagi. Karyanya seolah-olah telah menjadi gambaran kehidupan di masa depannya yaitu seorang ahli fisika dunia yang cinta keluarga.
            Ikanuri dan Wibisana, si kembar tapi tak kembar. Melalui mereka kita belajar kesenangan, kepercaya dirian, serta  istilah “don’t judge book on the cover” berlaku bagi perjuangan mereka. Lihatlah Ikanuri dan Wibisana, kenakalan mereka membuahkan kreativitas. Siapa sangka, kedua anak kecil dengan segala kenakalannya itu yang selalu menumpang mobil pick up ke kota,, dimasa depan menjadi pebisnis mobil yang tak hanya bisa ke kota bahkan bisa ke Eropa.
            Yashinta, si bungsu manja yang selalu memunculkan binar di mata indahnya ketika melihat anak berang-berang yang sedang bermain di sungai telah menjadi pecinta alam yang juga melestarikan hewan-hewan di masa depan. Si kecil yang sangat mengidolakan Kak Laisa, seorang idealis yang berani mengambil keputusan berkenaan dengan prinsipnya.
            Terakhir, Kak Laisa, seorang kakak yang juga pahlawan bagi keempat adiknya menunjukan bahwa berkorban itu indah, berbuat dengan tulus itu mengasyikan. Berbagi itu nikmat ditengah kekurangan dan keterbatasan. Menunjukan bahwa,kita bisa menjadi bidadari-bidadari surga walau dengan segala penderitaan atau cobaan yang dihadapi di dunia. Kita bisa menjadi bidadari-bidadari surga di akhirat kelak, dengan abadi.
 Dan sungguh di surga ada bidadari-bidadari bermata jeli (Al Waqiah: 22).
 Pelupuk mata bidadari-bidadari itu selalu berkedip-kedip bagaikan sayap burung indah. Mereka baik lagi cantik jelita. (Ar Rahman: 70).
Bidadari-bidadari surga, seolah-olah adalah telur yang tersimpan dengan baik (Ash-Shaffat: 49)
            Novel bidadari-bidadari surga mengajak pembaca membuka mata dan hati tentang keindahan alam Indonesia. Bahwa ada di titik kecil pada peta Indonesia, terdapat tempat dengan alam yang sangat indah. Tempat yang melahirkan pemuda-pemuda Indonesia dengan potensi-potensi luar biasa yang siap digarda terdepan mengharumkan nama Indonesia. Pemuda-pemuda dengan mental sekuat baja, hati selembut kapas, dan otak selicin belut yang lahir dan berjuang  dengan  segala keterbatasan untuk mengejar mimpi mereka, memenuhi passion mereka.
            Untaian kata yang dengan mudahnya membuat kita menyadari bahwa dalam kehidupan kita, kesuksesan kita terdapat sesosok pahlawan yang menjadi panutan, motivasi, untuk mencapai yang terbaik. Terdapat keluarga yang selalu ada dan menyokong tubuh kita disaat kila lelah. Selalu menyemangati dengan senyum yang selalu menghiasi wajah. Selalu ada kepedulian yang tak pernah padam dimanapun kita melangkah. Bersedia berjalan bersama untuk selalu berjuang. Sebuah keluarga. Family. Ya, keluarga suatu ikatan yang tak bisa putus walau tanpa mengalirnya darah yang sama. Keluarga, membuat mengerti apa artinya pengorbanan dan kepedulian.
      
    
           


Baca selengkapnya..

Artikel Menarik..