13 Desember 2009
Mencari Kesegaran Hati
“Agama ini kokoh dan kuat. Masukilah dengan lunak, dan jangan sampai timbul kejenuhan dalam beribadah kepada Rabbmu.” (Al-Baihaqi)
Maha Suci Allah yang mempergilirkan siang dan malam. Kehidupan pun menjadi dinamis, seimbang, dan berkesinambungan. Ada hamba-hamba Allah yang menghidupkan siang dan malamnya untuk senantiasa dekat dengan Yang Maha Rahman dan Rahim. Tapi, tidak sedikit yang akhirnya menjauh, dan terus menjauh.
Seperti halnya tanaman, ruhani butuh siraman
Sekuat apa pun sebatang pohon, tidak akan pernah bisa lepas dari ketergantungan dengan air. Siraman air menjadi energi baru buat pohon. Dari energi itulah pohon mengokohkan pijakan akar, meninggikan batang, memperbanyak cabang, menumbuhkan daun baru, dan memproduksi buah.
Seperti itu pula siraman ruhani buat hati manusia. Tanpa kesegaran ruhani, manusia cuma sebatang pohon kering yang berjalan. Tak ada keteduhan, apalagi buah yang bisa dimanfaatkan. Hati menjadi begitu kering. Persis seperti ranting-ranting kering yang mudah terbakar.
Allah swt. memberikan teguran khusus buat mereka yang beriman. Dalam surah Al-Hadid ayat 16, Yang Maha Rahman dan Rahim berfirman, “Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka). Janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al-Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka. Lalu, hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.”
Hati buat orang-orang yang beriman adalah ladang yang harus dirawat dan disiram dengan zikir. Dari zikirlah, ladang hati menjadi hijau segar dan tumbuh subur. Akan banyak buah yang bisa dihasilkan. Sebaliknya, jika hati jauh dari zikir; ia akan tumbuh liar. Jangankan buah, ladang hati seperti itu akan menjadi sarang ular, kelabang dan sebagainya.
Hamba-hamba Allah yang beriman akan senantiasa menjaga kesegaran hatinya dengan lantunan zikrullah. Seperti itulah firman Allah swt. dalam surah Ar-Ra’d ayat 28. “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allahlah hati menjadi tenteram.“
Rasulullah saw. pernah memberi nasihat, “Perumpamaan orang yang berzikir kepada Rabbnya dan yang tidak, seumpama orang hidup dan orang mati.” (Bukhari dan Muslim)
Siapapun kita, ada masa lengahnya
Manusia bukan makhluk tanpa khilaf dan dosa. Selalu saja ada lupa. Ketika ruhani dan jasad berjalan tidak seimbang, di situlah berbagai kealpaan terjadi. Saat itulah, pengawasan terhadap nafsu menjadi lemah.
Imam Ghazali mengumpamakan nafsu seperti anak kecil. Apa saja ingin diraih dan dikuasai. Ia akan terus menuntut. Jika dituruti, nafsu tidak akan pernah berhenti.
Pada titik tertentu, nafsu bisa menjadi dominan. Bahkan sangat dominan. Nafsu pun akhirnya memegang kendali hidup seseorang. Nalar dan hatinya menjadi lumpuh. Saat itu, seorang manusia sedang menuhankan nafsunya.
Allah swt. berfirman, “Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya.” (Al-Jatsiyah: 23)
Seburuk apapun seorang muslim, ada pintu kebaikannya
Seperti halnya manusia lain, seorang muslim pun punya nafsu. Bedanya, nafsu orang yang beriman lebih terkendali dan terawat. Namun, kelengahan bisa memberikan peluang buat nafsu untuk bisa tampil dominan. Dan seorang hamba Allah pun melakukan dosa.
Dosa buat seorang mukmin seperti kotoran busuk. Dan shalat serta istighfar adalah di antara pencuci. Kian banyak upaya pencucian, kotoran pun bisa lenyap: warna dan baunya.
Allah swt. berfirman dalam surah Ali Imran ayat 133 hingga135. “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa….Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah. Lalu, memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.“
Khilaf buat hamba Allah seperti mata air yang tersumbat. Dan zikrullah adalah pengangkat sumbat. Ketika zikrullah terlantun dan tersiram dalam hati, air jernih pun mengalir, menyegarkan wadah hati yang pernah kering.
Sekecil Apapun kebaikan dan keburukan, ada ganjarannya
Satu hal yang bisa menyegarkan kesadaran ruhani adalah pemahaman bahwa apa pun yang dilakukan manusia akan punya balasan. Di dunia dan akhirat. Dan di akhirat ada balasan yang jauh lebih dahsyat.
Firman Allah swt., “Siapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan siapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.” (Al-Zilzaal: 7-8)
Pemahaman inilah yang senantiasa membimbing hamba Allah untuk senantiasa beramal. Keimanannya terpancar melalui perbuatan nyata. Lantunan zikirnya hidup dalam segala keadaan.
“(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), ‘Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (Ali Imran: 191)
Read More...
08 November 2009
Tips Agar Tidak Mencontek Saat Ujian
Bismillah..
Di masa2 sebelum ujian, biasanya kita takut kalau hasil ujian tidak sesuai dengan yang kita harapkan. Ini wajar temanku. Karena itulah namanya ujian, artinya menguji seberapa dalam kompetensi kita dalam menerima materi. Takut ketika ujian menjadi tidak wajar kalau hal2 yang menyebabkan kita takut adalah hal2 tak rasional, seperti takut mati dsb.
Salah satu wujud ketakutan kita saat ujian adalah kalau ternyata kita mencontek (naujubile). Mencontek itu punya banyak sisi negatif. Yang pertama itu akan mendidik kita untuk tidak jujur. Mungkin saja para koruptor dulu adalah orang2 yang suka mencontek. Bisa saja kan? Hehehe.. Selanjutnya sisi jelek atau negatif dari mencontek adalah membuat kita tidak menghargai dan mengapresiasi kemampuan kita sendiri. Kita cenderung bergantung pada orang lain, yang selanjutnya menjerumuskan kita ke jurang dengan kehampaan kemandirian. Kita jadi hilang kepercayaan diri, dan hal2 lain yang mengganggu kepribadian kita nantinya.
Bagaimana kalau kita tidak bisa mengerjakan ujian? Ya santai saja. Kalau memang tidak bisa seluruhnya, pasrah saja. Jangan jadikan itu alasan kita boleh mencontek. Hihihi.. Berikut sedikit tips2nya...
1. Persiapan matang
Sudah pasti, karena kesuksesan itu sebenarnya gabungan dari persiapan dan kesempatan. Kalau persiapan kita udah matang, mengapa mesti takut? Walau kadang2 juga soal ujian tidak pernah kita duga, yang membuat kita keringat dingin bahkan untuk 10 menit pertama saja.
2. Kalem Brur...
Biar kalem gimana dong? Ya baca bismillah. Hehehe.. Karena hanya dengan mengingat Allah hati kita menjadi tenang. Jangan sungkan2 nulis basmalah di kertas ujian, sapa tau jadi jimat bagus. Hihihihi.. Enggak ding. Yah pokoknya segala sesuatu yang dimulai dengan basmalah pasti dapet berkah deh.. Percaya kan? Ayo dong percaya..:P
3. Jaga konsentrasi
Kadang2 kita tidak tahu harus menulis apa di kertas ujian bukan karena kita tidak tahu, tapi karena beberapa materi yang "nyempil" di otak kita dan belum terbuka segelnya saja. Jadi, tetap konsentrasi dan kalem, siapa tahu2 Allah Kasih kita kemudahan, dan... TING! Kita tiba2 dapet ilham untuk mengerjakan soal yang kita anggap sulit tadi. Insya Allah. Nah, jadi jangan menyerah. Dan satu lagi, jangan terpengaruh oleh teman2 kita yang keluar cepet. Hihihiii kan belum tentu juga jawaban mereka bener. Hehehe.. Pokoknya berdjoeang sampe akhir sajalah.:D
4. Ingat2 akibatnya kalau kamu ketahuan
Biasanya sih ditegur dan disuruh nulis berita acara. Isinya ga jauh2 dari "saya melakkan kesalah saat ujian" dan biasanya berakibat pada menurunnya (atau bahkan hilang/dianggap ga ada) nilai mata ujian yang bersangkutan untuk kita. Nah, kalau udah begitu ribet kan? Hehehe.. Makanya jangan nyontek yach? ;)
Oke ya? jangan nyontek ya? :)
Met UTS Kawan..semangat!!
Read More...
08 Oktober 2009
PASTIKAN YANG HALAL YANG KAU MAKAN
SEBUTIR KORMA PENJEGAL DO’A
Usai menunaikan ibadah haji, Ibrahim bin Adham berniat ziarah ke mesjidil Aqsa. Untuk
bekal di perjalanan, ia membeli 1 kg kurma dari pedagang tua di dekat mesjidil Haram.
Setelah kurma ditimbang dan dibungkus, Ibrahim melihat sebutir kurma tergeletak di dekat timbangan. Menyangka kurma itu bagian dari yang ia beli, Ibrahim memungut dan
memakannya.
Setelah itu ia langsung berangkat menuju Al Aqsa.4 Bulan kemudian, Ibrahim tiba di Al Aqsa. Seperti biasa, ia suka memilih sebuah tempat beribadah pada sebuah ruangan dibawah kubah Sakhra. Ia shalat dan berdoa khusuk sekali.
Tiba tiba ia mendengar percakapan dua Malaikat tentang dirinya.
"Itu, Ibrahim bin Adham, ahli ibadah yang zuhud dan wara yang doanya selalu dikabulkan ALLAH SWT," kata malaikat yang satu.
"Tetapi sekarang tidak lagi. doanya ditolak karena 4 bulan yg lalu ia memakan sebutir kurma yang jatuh dari meja seorang pedagang tua di dekat mesjidil haram," jawab malaikat yang satu lagi.
Ibrahim bin adham terkejut sekali, ia terhenyak, jadi selama 4 bulan ini ibadahnya, shalatnya, doanya dan mungkin amalan-amalan lainnya tidak diterima oleh ALLAH SWT garagara memakan sebutir kurma yang bukan haknya. "Astaghfirullahal adzhim" ibrahim
beristighfar.
Ia langsung berkemas untuk berangkat lagi ke Mekkah menemui pedagang tua penjual kurma untuk meminta dihalalkan sebutir kurma yang telah ditelannya.
Begitu sampai di Mekkah ia langsung menuju tempat penjual kurma itu, tetapi ia tidak
menemukan pedagang tua itu melainkan seorang anak muda. "4 bulan yang lalu saya membeli kurma disini dari seorang pedagang tua. kemana ia sekarang ?" tanya ibrahim.
"Sudah meninggal sebulan yang lalu, saya sekarang meneruskan pekerjaannya berdagang
kurma" jawab anak muda itu.
"Innalillahi wa innailaihi roji'un, kalau begitu kepada siapa saya meminta penghalalan ?".
Lantas ibrahim menceritakan peristiwa yg dialaminya, anak muda itu mendengarkan penuh
minat. "Nah, begitulah" kata ibrahim setelah bercerita, "Engkau sebagai ahli waris orangtua itu, maukah engkau menghalalkan sebutir kurma milik ayahmu yang terlanjur ku makan tanpa izinnya?".
"Bagi saya tidak masalah. Insya ALLAH saya halalkan. Tapi entah dengan saudara-saudara saya yang jumlahnya 11 orang. Saya tidak berani mengatas nama kan mereka karena mereka mempunyai hak waris sama dengan saya."
"Dimana alamat saudara-saudaramu ? biar saya temui mereka satu persatu."
Setelah menerima alamat, ibrahim bin adham pergi menemui. Biar berjauhan, akhirnya selesai juga. Semua setuju menghalakan sebutir kurma milik ayah mereka yang termakan oleh ibrahim.
4 bulan kemudian, Ibrahim bin adham sudah berada dibawah kubah Sakhra. Tiba tiba ia
mendengar dua malaikat yang dulu terdengar lagi bercakap cakap. "Itulah ibrahim bin adham yang doanya tertolak gara gara makan sebutir kurma milik orang lain."
"O, tidak.., sekarang doanya sudah makbul lagi, ia telah mendapat penghalalan dari ahli waris pemilik kurma itu. Diri dan jiwa Ibrahim kini telah bersih kembali dari kotoran sebutir kurma yang haram karena masih milik orang lain. Sekarang ia sudah bebas."
"Oleh sebab itu berhati-hatilah dgn makanan yg masuk ke tubuh kita, sudah halal-kah? lebih baik tinggalkan bila ragu-ragu...
Read More...
27 September 2009
Komunikasi Efektif
Kehidupan selalu ditandai dengan konflik dan pertentangan. Pertentangan ini mungkin bukan pertentangan yang bersifat fisik dan anarkis. Pertentangan juga bisa berupa situasi di mana dua orang atau lebih memiliki pandagan yang sama sekali berbeda, keinginan-keinginan yang berbeda, atau tujuan-tujuan yang tidak sama dan masing-masing berusaha untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan.
Sebagaimana dalam sebuah pertempuran, setiap prajurit harus tahu senjata apa yang ia miliki, dan kapan harus memanfaatkannya. Namun, senjata bukan segala-galanya. Ingat ungkapan “the man behind the gun”. Senjata tanpa kemampuan atau kompetensi orang di belakangnya dapat amat berbahaya. Kita perlu memanfaatkan kekuatan-kekuatan yang ada dalam diri kita dan mendesakkannya terhadap kelemahan-kelemahan lawan. Jangan kita masuk dalam situasi di mana kita hanya dimanfaatkan oleh kekuatan lawan.
Ada sebuah ungkapan menarik dari J. Robert Parkinson, seorang ahli organisasi dan manajemen yang menegaskan:
“Jangan pernah menendang seekor kangguru.”
Dalam soal tendang-menendang, seekor kangguru tentu jauh lebih baik dari kita. Karena itu, bila kita ikut kontes tendang-menendang dengan seekor kangguru, tentu kita akan kalah; sama sekali tidak masuk akal. Hal itu bukan berarti kita menghindari konflik atau pertentangan. Itu hanya berarti kita harus tahu lebih baik daripada sekedar memilih tendangan sebagai senjata. Pilih, rencanakan, dan pikirkan sebelumnya, agar kita dapat menentukan aturan mainnya, maka kita tidak akan terpaku pada permainan tendang-menendang dengan seekor kangguru.
Beberapa hal yang harus diketahui, agar komunikasi lebi efektif:
Pertama, Mempengaruhi orang lewat perjumpaan (negosiasi)
Sebelum merencanakan taktik dan strategi dalam mempengaruhi, hal yang sangat penting harus dilakukan adalah menyatakan dengan sejelas-jelasnya apa yang kita inginkan. Paksa diri kita untuk menulisnya. Kita mungkin bisa membohongi diri sendiri, tapi kita tidak dapat berbohong pada kertas putih. Tanpa ada tujuan yang jelas, kita tak mungkin mengetahui apakah kita sudah mencapainya atau belum. Kita juga sulit menentukan strategi apa yang tepat untuk mencapai tujuan tersebut.
Ibarat mengendarai sebuah mobil. Jika kita tidak memiliki tujuan yang pasti, maka sebenarnya tidak ada bedanya jalan manapun yang kita lalui dan seberapa cepat kita mengendarai mobil tersebut. Kita hanya akan menghamburkan banyak waktu, tenaga, dan bahan bakar. Kita tidak akan mencapai apa-apa. Mulai sekarang kita harus berprinsip:
“apapun yang kita lakukan, lakukan hal itu atas dasar tujuan.”
Kebiasaan salah yang kerap dilakukan dalam proses negosiasi adalah terlalu luas dan general dalam menentukan tujuan. Karena luasnya, hingga tujuan tersebut tidak dapat dijalankan. Ingatlah ungkapan:
“Setiap perjalanan ribuan kilometer harus dimulai dengan satu langkah pertama.”
Ketika kita menggambarkan tujuan yang kita ingin capai, anggap pernyataan itu seakan-akan sebagai satu langkah, dan bukan seluruh perjalanan itu. Kita perlu menentukan apa yang ingin kita capai sekarang, dengan orang tertentu, pada pertemuan tertentu ini, dalam pembicaraan ini.
Dalam melangsungkan pertemuan untuk bernegosiasi, ada beberapa saran pokok yang kiranya penting dijadikan perhatian:
Pertama, bayangkan pertemuan tersebut di benak kita. Persiapkan sebelumnya dengan menuliskan skenario yang mungkin kita masuki, tapi jangan terlalu kaku berpegang padanya kata demi kata. Kalau kita terlalu kaku, kita akan dihadapkan pada kebingungan jika lawan memberikan tanggapan yang lain dari yang kita skenariokan. Lebih baik kita memikirkan pokok-pokok perkara yang kiranya akan dikemukakan oleh pihak lain (lawan) dalam memberikan reaksi dan kemudian memberikan urutan perkara yang ingin kita kemukakan.
Setelah itu cobalah untuk mem-visualisasikan dimana pertemuan itu berlangsung. Apakah kita akan berdiri di podium? Duduk di meja? Di kantor pribadi atau di kantor lawan bicara kita?. Cobalah bayangkan! Pikirkan dalam-dalam cara yang kita mau dan situasi yang kita masuki sebelum kita mempraktekkannya dalam perjumpaan riil. Kendalikan pertemuan tersebut sesuai dengan rencana yang kita buat. Dengan begitu, kita dapat memenangkan menit-menit atau detik-detik pertama yang amat penting dalam pertemuan tersebut. Amat mungkin bahwa lawan kita tidak melakukan proses mental semacam itu, sehingga situasi aktualnya akan merupakan sesuatu yang benar-benar baru baginya, maka kita akan lebih diuntungkan.
Kedua, rencanakan faktor-faktor kebetulan. Contoh sederhana, suatu saat kita membayangkan bertemu seorang pria, namun kenyataannya ia adalah seorang wanita. Karena itu, ketika mengembangkan sebuah rencana, pastikan bahwa rencana itu mencakup hal-hal kebetulan yang mungkin akan terjadi tetapi belum dapat anda prediksi. Tegasnya, “Jangan membiarkan apapun ditentukan oleh faktor kebetulan. Jangan mengandaikan apa-apa tanpa kita selidiki dan persiapkan terlebih dahulu.”
Ketiga, Santailah! Ketika pertemuan tiba, bisa jadi kita merasa adanya tekanan, stress, ketegangan, dan selusin perasaan serupa. Itu merupakan hal yang lumrah. Dalam keadaan seperti itu, adrenalin mengalir dalam sistem tubuh dan jantung terpacu. Kita tidak dapat mengontrol aliran adrenalin itu tapi kita dapat mengendalikan pengaruhnya. Pada saat itu, bagian tubuh yang pertama bereaksi adalah kaki kita dengan mengikuti “Sindroma melawan atau lari”. Tolak dorongan untuk melarikan diri dan berkonsentrasilah pada upaya untuk mengendalikan kaki kita.
Jika kita sedang berdiri, berdirilah tegak dengan dua kaki menapak kuat di atas lantai dan sedikit renggang. Usahakan berat badan terbagi rata pada kedua kaki. Jangan mengalihkan berat badan dari kaki satu ke kaki yang lain. Jangan pula bergoyang-goyang. Berdirilah tegak dengan sikap tenang.
Jika kita duduk, lupakan kursi memiliki sandaran, duduklah tegak dengan tatapan ke depan. Jangan menggeser-geser kaki jika tidak diperlukan. Ingat, kendalikan adrenalin lewat kontrol pada kaki anda. Dengan sikap tenang tanpa terburu-buru. Lakukan gerakan-gerakan dengan tenang. Bentuklah kesan bahwa kita Atentif (penuh perhatian), Aktif, Waspada, dan Agresif (AAWA). Konsentrasi! Jadikanlah hal itu sebagai prioritas utama dan berusahalah dengan keras untuk itu.
Keempat, cari “petunjuk” sebagai senjata. Terkadang kita dihadapkan oleh situasi yang sangat kaku dan dingin, atau situasi yang membuat kita terpojok. Salah satu kiat mengatasinya adalah dengan mengalihkan perhatian pada hal-hal yang bisa mencairkan suasana. Lawan kita pasti memiliki hobby atau kesenangan. Terkadang kita dapat menemukannya dengan cepat di ruangannya. Lukisan, hiasan atau lainnya dapat kita gunakan sebagai petunjuk. Asal daerah terkadang perlu juga kita tanyakan. Mungkin kita dapat mencairkan suasana dengan mencoba membuai lawan bicara kita untuk bernostalgia dengan kampung halamannya. Ingat jangan terburu-buru pada tujuan utama kita! Observasilah dengan cepat dan teliti ruangan atau dokumen yang ada dan gunakan petunjuk apapun yang dapat digunakan.
Tips Menjual Gagasan
Gagasan adalah buah dari cara berpikir anda. Gagasan ibarat bayi yang baru dilahirkan, masih amat lemah tanpa bantuan sekelilingnya. Gagasan memerlukan penanganan khusus sejak dilahirkan hingga diubah menjadi cara-cara praktis mengerjakan sesuatu lebih baik.
Ada beberapa tips menjual gagasan pada orang lain:
1. Rancang gagasan dengan baik
2. Jelaskan dengan berhati-hati
3. Perhatikan soal waktu dalam gagasan itu
4. Perhatikan daya guna dalam gagasan itu
5. Buatlah gagasan itu betul-betul meyakinkan
6. Pakailah penilaian yang tepat
7. Ajaklah pengikutsertaan orang lain di dalamnya
8. Ujilah keampuhan gagasan itu
9. Lakukan pembaharuan
10. Bersikaplah tabah
Tips menyusun pesan untuk mempengaruhi orang lain:
• Attention (perhatian)
• Need (kebutuhan)
• Satisfaction (pemuasan)
• Visualization (visualisasi)
• Action (tindakan)
Jadi, bila anda ingin mempengaruhi orang lain, rebutlah lebih dulu perhatiannya, selanjutnya bangkitkan kebutuhannya, berikan petunjuk bagaimana cara memuaskan kebutuhan itu, gambarkan dalam pikirannya keuntungan dan kerugian yang diperoleh bila ia menerapkan atau tidak menerapkan gagasan anda. Doronglah ia untuk bertindak.
Contoh sederhana. Bila anda berkata kepada teman anda, “Lihat rambutmu!” Anda berada pada tahap pertama. Bila kemudian anda menyatakan bahwa rambut itu perlu dipotong, Anda berusaha meyakinkan dia akan kebutuhannya sendiri. Katakan bahwa sudah saatnya memotong rambut. Ini pemuasan. Anda tentu akan menjelaskan, bila tidak dipotong cepat-cepat, rambut itu akan mengganggunya, menyebabkan ia kelihatan tidak rapi; sedangkan bila dipotong, ia akan tampak gagah, sopan, rapi dan tampan. Ini usaha visualisasi. “Ayo, cukurlah rambutmu sekarang.” Adalah saran Anda supaya komunikasi melakukan tindakan.
Tips Komunikasi Efektif
Langkah 1
• Kenalilah tujuan anda
• Kenalilah pendengar anda
• Kenalilah pendekatan anda
Langkah 2
• Apa yang akan saya bicarakan
• Siapa yang terlibat
• Dimana sesi tersebut
• Kapan sesi tersebut disampaikan
• Mengapa sesi disampaikan
• Bagaimana saya melakukan
Langkah 3
• Carilah kisi-kisi yang merealisasi tujuan
• Carilah kisi-kisi yang berhubungan dengan pendengar
• Carilah pendekatan yang tepat
Semoga dengan tulisan singkat ini menjadi bekal bagi para pembaca untuk mampu mengamalkan kaidah “Khatibul qaumi ‘ala qadri uqulihim”, Berkomunikasilah dengan suatu kelompok masyarakat sesuai dengan kadar intelektualitas mereka.” Allahu a’lam
Read More...
19 September 2009
Amazing Child; Habiburrahman version: Fathan, Noval, dan Najmi

Seri I’tikaf 1430H (2) >>
Amazing Child; Habiburrahman version: Fathan, Noval, dan Najmi
by Surya Erlangga
Dalam pengalaman I’tikaf di Habiburrahman, alhamdulillah saya selalu dipertemukan oleh anak-anak kecil yang mempunyai cerita menarik dengan Al Qur’an. Kalau dua tahun yang lalu saya bertemu tiga bocah (Zaki, Yayang, dan Lukman), maka kali ini saya dipertemukan oleh Fathan, Noval, dan Najmi. Saya jamin kalo antm/rekan2 ketemu langsung, akan langsung terkagum/terheran2 melihat mereka.. pertanyaan pamungkas yang suka saya tanyakan kepada anak-anak kecil itu adalah udah ngaji berapa banyak pas I’tikaf ini? Atau udah berapa banyak hafalannya?
Fathan fadhillah, bocah Garut, sekarang kelas 1 SMP. Ke habib bersama neneknya, dengan kata lain, di wilayah ikhwan, dia hanya sendirian. Tiap kali ngliat, pasti dia sendirian. Tapi yang menarik, dia selalu membawa Al Qur’an dan buku catatan. Buku catatan ini pernah saya buka sendiri, dan isinya memang materi-materi yang pernah disampaikan pada I’tikaf saat itu. Luar biasa, yang mahasiswa aja kadang ga pernah nyatet (dengerin sih dengerin). Tapi coba tanya berapa hafalannya? Fathan hafal juz 29 & 30. Sekali lagi juz 29 & 30. Waktu saya mendengat bacaan Qur’annya juga bagus. Sampe saya tanya, ngajinya dari awal Ramadhan udah sebanyak 18 juz. Jadi??? Masih ada yang belum semangat untuk tilawah&menghafal Qur’an???
Next, Najmi dan Noval (kakak beradik). Tapi saya akan bahas Noval dulu. Si Adik ini ngaku umurnya 8 tahun, tapi kalo si Kakak (Najmi) bilang umurnya 6 tahun karena Noval lahir tahun 2007 (mungkin jalan 7 tahun kali ya). Lucu deh kalo merhatiin mereka berdua debat klo ditanya berapa umur Noval ^_^ si Noval bilang, “umur Noval 8 tahun”, trus si Najmi nimpaling, “gak.. umur Noval 6 tahun, kan lahir tahun 2002.” Muter-muter disitu aja terus.
Di depan Noval dan Najmi, saya pernah tanya ke Noval, ”Noval, udah hafal juz berapa?” belum sempet dijawab, kakaknya nimpalin,”dia (Noval, red.) sih ga hafalin Qur’an, dia hafalin Hadits.” I repeat once again, “dia (Noval, red.) sih ga hafalin Qur’an, dia hafalin Hadits.” Allahu akbar, saya bener2 ga nyangka, kagum ada anak kecil yang udah mulai nghafalin hadits.
“Coba donk, saya mau denger hafalan hadits Noval?” nanya saya lugu ^_^
Bener lho.. Kagum saya!!! Dengan suara dan berucap khas gaya anak kecil, dengar lengkap dia menyebutkan satu per satu perawi hadits, matan, sampai periwayatnya, dan semua pake bahasa aslinya (bahasa Arab, bukan bahasa Indonesia).. jadi misalnya an abi hurairah dst.. sempet lupa ditengah2, tapi diingetin ma Najmi, bisa diterusin sampe selesai.. asli pake bahasa Arab.. dan saya tanya, “Artinya apa Val?” dia cuma geleng-geleng kepala.. wow, cuma bisa arabnya aja, luar biasa, subhanallah.. dan pas ditanya lain waktu ttg berapa hafalan qur’annya, dia cuma jawab,”baru juz 30 aja, itu juga suka lupa2.” Mau ga percaya? Anak kecil yang jawab lho, masih polos dia ^_^
Beda lagi sama si kakak alias Najmi, foto berikut adalah kali pertama saya melihat Najmi. Gayanya itu menarik perhatian saya. Gaya khas anak kecil yang lagi baca Qur’an sangat menikmati seakan lagi baca buku komik atau buku cerita bergambar yang memang sudah lazimnya menjadi kesukaan anak kecil pada umumnya. Waktu itu mau diajak kenalan, tapi sudah menghilang entah kemana.. jadi baru ada kesempatan kedua, baru sempat kenalan. Dengan mata dia yang 5 watt (ngantuk mau tidur), saya datengin dan ajak kenalan. Dari situ saya tau nama, tinggal dimana, punya adik namanya Noval (seperti yang diceritakan diatas).. tapi yang satu ini juga punya keunikan. Awal pertanyaannya masih sama, “Najmi sudah hafal juz berapa aja?” lalu dia jawab,”baru sampe Al-Hasyr.”
Waktu dia jawab gitu, masih multitafsir kan.. sampe Al-Hasyr, darinya dari mana? Dari Al-Baqarah ato dari An-Naas? He3x.. rasa penasaran itu hilang begitu saya tanya,”oh berarti juz 28 sd 30 ya?” si Najmi ngangguk pasti.. wow.. luar biasa. Yang uniknya lagi, begitu saya minta dengar bacaan Qur’annya, ternyata bacaannya BELUM LANCAR, masih terbata2. Dia sendiri ngaku begitu. Kata dia, gara-garanya dia ga lewat iqro’ 5 dan 6, jadi dari iqro’4 langsung loncat ngaji Al Qur’an.. he3x, ya gpp sih.. dari tiga anak ini, Najmi yang paling membuat saya senyum-senyum sendiri, mengagumi tingkah anak ini.. bahkan saya sempet muraja’ah bareng juz 30 plus Al-Mursalat dan sedikit Al-Insan.. Allahu Akbar!!!
Anak ini (Najmi) mandiri lho.. kadang dia ditinggal ma Abinya (&Noval) untuk pulang ke rumah atau bekerja, tapi dia tetap santai di masjid, main-main, lari-lari, ga tau juga mainnya sama siapa dimana. Kadang klo lagi nganggur, saya ajak ngaji bareng aja. Saya dengan ngaji saya, dan dia dengan ngajinya dia sendiri..
Untuk beberapa rekan2 yang saya kenal, biasanya tiga anak ini saya perkenalkan kepada mereka.. tentu perkenalan dengan seabreg keunikan yang Allah anugerahkan kepada mereka, supaya kami yang tua-tua ini bisa ‘bangun’ dan terlecut untuk tetap meningkatkan interaksinya dengan Al-Qur’an..
Semoga jumlah anak2 seperti ini makin banyak dan bisa mengganti makhluk2 kayak saya ini yang udah telat nghafalin Qur’an, lama waktunya, males/ga semangat, trus gampang lupa lagi parah benerr T_T
Semoga bermanfaat, ke edisi selanjutnya…
Read More...



