At-Taubah Ilallah

1. At-Taubah Ilallah

“Hai orang-orang yang beriman, bertobatlah kepada Allah dengan tobat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Tuhan kamu akan Menghapus kesalahan-kesalahanmu dan Memasukkan kamu ke dalam Surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak Menghinakan nabi dan orang-orang yang beriman bersama dengan dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan, “Ya Tuhan kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. At-Tahrim 66:8)

1.a. Keharusan Taubat dan Keutamaannya

Dasar hukum perintah Allah yang termuat di dalam Al-Qur’an menunjuk-kan kepada wajib, selagi tidak ada hal lain yang mengalihkannya. Dengan taubat ini, diharapkan agar mereka mengharapkan dua tujuan yang fundamental, yaitu penghapusan kesalahan-kesalahan dan masuk surga.

Siapapun perlu bertaubat. Di antara orang Mukmin ada yang bertaubat dari dosa besar, karena dia merasa tersiksa dengan dosa yang dilakukannya dan dia bukan orang yang terlindung dari dosa (ma’shum). Di antara mereka ada yang bertaubat dari dosa-dosa kecil yang diharamkan, dan jarang sekali orang yang selamat dari dosa-dosa kecil ini. Diantara mereka ada yang bertaubat dari syubhat. Sementara siapa yang menjauhi syubhat, berarti telah menyelamatkan agama dan kehormatan dirinya. Di antara mereka ada yang bertaubat dari hal-hal yang dimakruhkan. Di antara mereka ada yang bertaubat dari kelalaian yang selalu menghantui hati. Di antara mereka ada yang bertaubat dari kondisinya yang senantiasa di bawah dan tak pernah naik ke tingkatan yang lebih tinggi lagi. Taubatnya orang-orang awam tidak sama dengan taubatnya orang-orang khusus. Karena itu ada yang berkata : Kebaikan orang-orang yang berbuat bajik sama dengan keburukan orang-orang yang melakukan taqarrub.

“Setiap orang di antara kamu sekalian melakukan kesalahan, dan sebaik-baik orang yang melakukan kesalahan adalah yang bertaubat.” (HR. Ahmad)

Sebagaimana taubat yang diwajiban kepada semua orang, ia juga diwajibkan dalam keadaan apapun. Dengan kata lain, taubat ini harus dilakukan secara berkelanjutan. Kalaupun pada kondisi tertentu seseorang terbebas dari kedurhakaan anggota tubuhnya, toh belum tentu dia terbebas dari hasrat hati untuk berbuat dosa. Kalaupun dia terbebas dari hasrat ini, belum tentu dia terbebas dari bisikan-bisikan syetan yang membuatnya lupa mengingat Allah. Jika dia terbebas dari bisikan syetan ini, belum tentu dia terbebas dari kelalaian dan pengabaian ilmu tentang Allah dan sifat-sifat-Nya.

Allah menyamakan orang yang tidak mau bertaubat dengan orang yang zhalim.

“… dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Hujurat 49:11)

Manusia terlalu bodoh, lalai dan pelupa untuk mengetahui apakah dia telah melakukan kewajiban dengan sempurna atau masih ada yang terlalaikan, apakah dia melakukan kemaksiyatan atau tidak. Sedangkan Allah-lah yang mengetahui segala kelalaian dan dosa-dosa pada dirinya maka sudah tidak ada alasan lagi bagi kita untuk tidak bertaubat kepada Dzat yang lebih mengetahui keadaan diri kita daripada kita sendiri.

Luasnya Ampunan Allah

Terdapat contoh-contoh ekstrim dimana membuktikan ke-Maha Pemurahan Allah dalam Memberikan Ampunan :

Dalam ayat Al-Qur’an ada yang menyeru orang-orang syirik untuk bertaubat dan membukakan pintu bagi mereka untuk masuk ke dalam masyarakat Islam (QS. 9:5)

Al-Qur’an juga menyeru orang-orang Nashara yang menganggap Al Masih sebagai tuhan, padahal beliau adalah hamba dari hamba-hamba Allah yang menyeru kepada penyembahan Allah semata. Al-Qur’an memberikan kesempatan kepada mereka untuk bertaubat dari kesalahan ini. (QS. Al-Maidah 5:72-74)

Bahkan Allah membukakan pintu taubat bagi orang-orang kafir yang bertindak kejam, yang membunuhi orang-orang Mukmin dan Mukminah yang menyiksa dan memasukkan mereka ke dalam kobaran api yang berkobar-kobar. (QS. Al-Buruj 85:10) [Perhatikan kemurahan hati semacam ini]

Bahkan orang yang murtad pun, atau orang yang kufur setelah beriman, taubatnya juga diterima. (QS. Ali Imran:86-89)

Keutamaan Taubat dan Orang-orang yang Bertaubat

“Sesungguhnya Allah Menyukai orang-orang yang tobat dan Menyukai orang-orang yang menyucikan diri.” (QS. Al-Baqarah 2:222)

Derajat apakah yang lebih tinggi daripada derajat cinta dari Allah? Adakahkeutamaan yang lebih besar dari cara penerimaan orang yang bertaubat disisi Allah ini? Apalagi kejahatan-kejahatannya diganti dengan kebajikan.

Dari Abu Thawil, bahwa dia pernah menemui Nabi SAW seraya bertanya, “Apa pendapat engkau tentang orang yang pernah melakukan semua jenis dosa dan dia tidak pernah meninggalkan sedikitpun dari dosa-dosa itu, apakah masih ada taubat baginya?” Beliau bertanya, “Apakah engkau sudah masuk Islam?” Dia menjawab, “Aku bersaksi bahwa tiada Ilah selain Allah dan engkau adalah Rasul Allah.” Beliau bersabda, “Jika engkau melakukan kebaikan-kebaikan dan meninggalkan keburukan-keburukan, maka Allah menjadikan amalmu kebaikan semuanya.” “Termasuk pula kesalahan dan kekejian-kekejianku?” “Ya” jawab beliau “Allahu Akbar,” katanya. Lalu dia beranjak pergi sambil terus menerus mengucapkan takbir. (HR. Al-Bazzar dan Ath-Thabrany)

Diantara keutamaan orang yang bertaubat dalah Allah menyibukkan para malaikat-Nya untuk memintakan ampunan bagi mereka dan berdoa kepada Allah agar Dia melindungi mereka dari siksa neraka Jahannam, lalu memasukkan mereka ke surga yang penuh kenikmatan, menjaga mereka dari kejahatan dan kesalahan.

“(Malaikat-malaikat) yang memikul Arasy dan malaikat yang berada di sekelilingnya bertasbih memuji Tuhan-nya dan mereka beriman kepada-Nya serta memintakan ampun bagi orang-orang yang beriman (seraya mengucapkan),”Ya Tuhan kami, Rahmat dan Ilmu Engkau meliputi segala sesuatu, maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertobat dan mengikuti Jalan Engkau dan peliharalah mereka dari siksaan neraka yang bernyala-nyala, ya Tuhan kmi, dan masukkanlah mereka ke dalam surga ‘And yang telah Engkau Janjikan kepada mereka dan orang-orang saleh di antara bapak-bapak mereka, dan istri-istri mereka, dan keturunan mereka semua. Sesungguhnya Engkau-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana, dan peliharalah mereka dari (balasan) kejahatan. Dan orang-orang yang Engkau Pelihara dari (pembalasan) kejahatan pada hari itu maka sesungguhnya telah Engkau Anugerahkan Rahmat kepadanya dan itulah kemenangan yang besar.” (QS. Al-Mukmin 40:7-9)

Para Nabipun bertaubat

Teladan untuk orang-orang yang bertaubat adalah bapak seluruh manusia, Adam AS.

“Dan durhakalah Adam kepada Rabb-nya dan sesatlah ia. Kemudian Rabbnya memilihnya, maka Dia menerima taubatnya dan memberinya petunjuk.” (QS. Thaha 20:121-122)

“Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Al-A’raf 7:22-23)

Al-Qur’an juga menyebutkan taubat Musa (yang dipilih Allah untuk membawa risalah-Nya, yang diturunkan kepadanya Taurat, yang dipilih Allah sebagai salah seorang Ulul-azmi). Sebelum datang risalah, beliau pernah membunuh seseorang.

“Musa berkata, ‘Ini adalah perbuatan syetan. Sesungguhnya syetan itu adalah musuh yang menyesatkan lagi nyata (permusuhannya)’ Musa berdo’a, ‘Ya Rabbi, sesungguhnya aku telah menganiaya diriku sendiri, karena itu ampunilah aku.’ Maka Allah mengampuninya, sesungguhnya Allah, Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Qashash 28:15-16)

Ketika Musa kembali kepada kaumnya setelah bermunajat dengan Rabbnya selama empat puluh hari, maka beliau mendapatkan kaumnya telah menyembah anak sapi. Musa amat marah. Lalu beliau melemparkan lembaran Taurat ditangannya ke tanah karena marah, padahal di dalamnya terdapat kalam Allah. Lalu beliau memegang kepala saudaranya, Harun dan menariknya, padahal Harun juga seorang rasul sekaligus saudaranya. Di sini Musa AS benar-benar dikuasai amarahnya, sekalipun mungkin beliau melakukannya karena Allah semata. Maka kemudian Musa berkata

“Ya Rabbi, ampunilah aku dan saudaraku dan masukkanlah kami ke dalam rahmat Engkau dan Engkau adalah Maha Penyayang di antara para penyayang.” (QS. Al-A’raaf 7:151)

Al-Qur’an juga menyebutkan taubat Yunus AS. Ketika beliau tidak sabar menghadapi kaumnya lalu menghindar dari mereka, maka Allah hendak menguji beliau dengan suatu ujian yang dapat mensucikan dirinya, menampakkan simpanan jiwanya, keyakinan terhadap Rabbnya dan kebenarannya jika bersama Allah.

“Dan (ingatlah kisah) Dzun-Nun(Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya), maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap,’Bahwa tidak ada Ilah selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zhalim.’ Maka Kami telah memperkenankan do’anya dan menyelamatkannya dari kedurhakaan. Dan, demikianlah kami selamatkan orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Anbiya 21:87-88)

Al-Qur’an juga telah menyebutkan taubat Daud AS, sebagaimana yang dikisahkan dalam surat Shad, yaitu tatkala ada dua orang yang beperkara, menghadap kepada beliau. Bahkan beliau sempat berang ketika keduanya sempat memanjat pagar pembatas mihrab. (QS. Shad 38:22-25)

Setelah itu datang perintah Allah kepada Daud yang melarang beliau agar tidak terbawa emosi dalam memutuskan perkara (QS. Shad 38:26)

Kepada orang-orang mulia itu kita belajar bagaimana membersihkan diri dari kesalahan. Dengan tetap menundukkan hati serendah mungkin, untuk tidak merasa lebih baik dari mereka, sedikit pun. Mereka tetap orang-orang pilihan. Kesalahan yang mereka lakukan langsung diluruskan oleh Allah. Pada saat yang sama Allah juga mengampuni kesalahan itu. Karenanya mereka tetap ma’shum dari kesalahan.

Yang kita pelajari dari manusia-manusia agung itu adalah sikap pasrah dan tunduk mereka. Secepatnya mereka bertaubat atas kesalahan yang terjadi. Bila orang-orang yang terjaga itu masih merasa perlu memohon ampunan kepada Allah swt, bagaimana dengan kita yang tak tahu pasti kesalahan-kesalahannya entah sudah seberapa.

Taubat dalam sunnah Nabawi

“Wahai manusia, bertaubatlah kepada Allah, karena aku bertaubat kepada-Nya seratus kali dalam sehari.” (HR. Muslim)

“Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla membentangkan Tangan-Nya pada malam hari untuk mengampuni pelaku kejahatan pada siang hari, dan membentangkan Tangan-Nya pada siang hari untuk mengampuni pelaku kejahatan pada malam hari, hingga matahari terbit dari tempat peraduannya.” (HR. Muslim dan An-Nasa’y)

“Seandainya kalian berbuat salah, hingga kesalahan kalian mencapai langit, kemudian kalian bertaubat, niscaya Allah akan mengampuni kalian.” (HR. Ibnu Majah)

“Setiap anak Adam bersalah, dan sebaik-baik orang-orang yang bersalah adalah orang-orang yang bertaubat.” (HR. At-Tirmidzy, Ibnu Majah dan Al-Hakim)

“Sesungguhnya ada seorang hamba yang berbuat dosa, lalu dia berkata, ‘Ya Rabbi, sesungguhnya aku berbuat dosa, maka ampunilah aku!’ Maka Rabbnya befirman, ‘Hamba-Ku tahu bahwa dia mempunyai Rabb yang mengampuni dosa dan akan menindaknya, lalu mengampuninya’. Kemudian dia tetap dalam keadaannya menurut kehendak Allah. Kemudian dia berbuat dosa lain, lalu berkata, ‘Ya Rabbi, sesungguhnya aku berbuat dosa lain, maka ampunilah bagiku’. Rabbnya befirman, ‘Hamba-Ku tahu bahwa dia mempunyai Rabb yang mengampuni dosa dan akan menindaknya, lalu mengampuninya’. Kemudian dia tetap dalam keadaannya menurut kehendak Allah. Kemudian dia berbuat dosa lain, lalu berkata, ‘Ya Rabbi, sesungguhnya aku berbuat dosa lain, maka ampunilah bagiku’. Maka Rabbnya befirman, ‘Hamba-Ku tahu bahwa dia mempunyai Rabb yang mengampuni dosa dan akan menindaknya’. Lalu Rabbnya befirman lagi, ‘Aku mengampuni dosa hamba-Ku, maka hendaklah dia berbuat menurut kehendaknya’. “ (HR. Al-Bukhary dan Muslim)

“Demi yang diriku ada diTangan-Nya, andaikan kalian tidak berbuat dosa, niscaya Allah akan mematikan kalian, lalu Dia akan mendatangkan suatu kaum yang berbuat dosa, lalu mereka memohon ampunan kepada Allah, dan Allah mengampuni dosa mereka.” (HR. Muslim)

1.b. Penopang-penopang Taubat

Tobat itu wajib dari tiap-tiap dosa. Jika maksiat (dosa) itu hanya antara ia dengan Allah, tiada berhubungan dengan hak manusia, ada tiga syarat taubat :

  1. Harus menghentikan maksiyat
  2. Harus menyesal atas perbuatan yang telah terlanjur dilakukannya
  3. Niat bersungguh-sungguh tidak mengulangi perbuatan itu kembali

Dan apabila dosa itu ada hubungan dengan hak manusia maka taubatnya ditambah syarat keempat, yaitu :

  1. Menyelesaikan urusannya dengan orang yang berhak dengan minta ma’af atau halalnya atau mengembalikan apa yang harus dikembalikannya

1.c. Buah-buah Taubat

1. Penghapus Keburukan dan Masuk Surga

2. Memperbarui Iman

3. Mengganti Keburukan dengan Kebaikan

4. Mengalahkan Musuh Yang Abadi

5. Mengalahkan Bisikan Nafsu Yang Menyuruh kepada Keburukan

6. Ketundukan Hati kepada Allah

7. Mendapatkan Cinta Allah

8. Kegembiraan Allah terhadap Orang Yang Bertaubat

1.d. Penghambat-penghambat Taubat

Seorang muslim, memang tidak boleh putus asa dari ampunan dan rahmat Allah. Tapi, itu tidak berarti ia boleh meremehkan dosa. Boleh jadi proses perbaikan diri, taubat dan pengharapan akan ampunan Allah menjadi sia-sia karena kecerobohan diri sendiri. Karenanya, berbagai penghalang yang bisa menghambat datangnya ampunan Allah harus dijauhi. Setidaknya ada 5 sikap yang harus dijauhi

1. Meremehkan Dosa

Hal ini membuat hati yang tidak gundah dan tidak merasa takut melakukan dosa. Padahal kedurhakaan terhadap Allah swt tidak mungkin diremehkan.

Rasulullah saw. bersabda, “Orang mukmin itu memandang dosanya seperti gunung yang seolah akan menimpanya. Sedangkan orang munafik itu melihat dosanya seperti lalat yang lewat di atas hidungnya. Lalu ia menepisnya agar terbang.” (HR. Bukhari)

2. Anggapan bahwa hidup masih panjang

Kematiahn masih jauh. Masih banyak kesempatan untuk bertaubat. Karenanya waktu hidup masih digunakan untuk bercanda ria, lalai, mengubar hawa nafsu dan mengikuti jalan syetan. Padahal tak pernah ada yang tahu tapal batas usia seseorang. Kematian tak pernah meminta izin untuk datang.

Berbekallah menyongsong sesuatu (kematian) yang pasti tiba. Kematian adalah waktu yang sudah ditentukan. Relakah engkau, jika engkau melihat orang lain membawa bekal, sementara engkau sama sekali tidak membawa bekal.

3. Mengandalkan Ampunan Allah

Sikap berlebihan seperti ini seperti sikap segolongan Yahudi yang disinggung dalam al-Qur’an

“Mereka mengambil harta benda dunia yang rendah ini dan berkata, kami akan diberi ampun.” (QS. Al-A’raf 7:169)

Siapa yang menjamin bahwa Allah akan memberi ampun? Allah akan mengampuni siapapun yang dikehendaki dan akan menolak ampunan siapapun yang Ia kehendaki.

“Siksa-Ku akan Kutimpakan kepada siapa yang Aku kehendaki dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu.” (QS. Al-A’raf 7:156)

Rahmat Allah tak datang dengan sendirinya melainkan harus dengan amalan ketaatan yang bisa mendekatkan pelakunya kepada rahmat itu sendiri.

4. Dikungkung Dosa dan Putus Asa Mendapatkan Ampunan

Ini kebalikan dari yang sebelumnya. Kondisi ini terjadi bagi orang yang terlalu banyak melakukan dosa, tapi kemudian sadar atas segala kekeliruannya. Ia seolah tak mampu membayangkan betapa besar dan beratnya beban dosa yang telah ia lakukan. Dan karena itu, ia pun merasa tidak ada lagi celah kesempatan ampunan Allah bagi dirinya. Padahal seorang muslim dilarang berputus asa dari rahmat Allah, betapapun dosa yang dikerjakannya.

5. Berteman dan bergaul dilingkungan yang tidak kondusif bagi amal-amal taat yang harus dilakukan pasca bertaubat

Seorang yang telah bertaubat sudah seharusnya meninggalkan lingkungan yang rusak, lalu mencari lingkungan dan komunitas yang bisa memberi pengaruh baik bagi hati dan jiwanya. Tanpa itu, taubat tidak akan berjalan baik karena bisa dipastikan seseorang merasa sangat sulit untuk berubah dan konsisten dengan ikrar taubatnya.

1.e. Pembangkit Taubat

1. Mengetahui Kedudukan dan Hak Allah

2. Ingat Mati dan Kubur

3. Mengingat Akhirat, Surga dan Neraka

4. Memperhatikan Pengaruh Kedurhakaan di Dunia dan Akhirat

Maraji’

Yusuf Al-Qardhawi, Taubat


0 Response to "At-Taubah Ilallah"

Posting Komentar